MyBlog

Archive for the ‘pertanian’ Category

Membuat sabun transparan

Posted by haryvedca on August 31, 2010

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sabun merupakan benda wajib yang kita pakai setiap hari. Tanpa sabun, mandi terasa tidak bersih karena sabun berfungsi untuk mengangkat kotoran yang menempel di tubuh kita.
Sabun pertama kali dibuat dari lemak yang dipanaskan dengan abu pada jaman Babilon kuno. Beragam jenis sabun digunakan secara berbeda di tiap kebudayaan. Orang Mesir kuno menggunakan campuran minyak hewan, tumbuhan dan garam sebagai sabun. Sedangkan orang Yunani kuno membersihkan tubuh dengan tanah liat, pasir, batu apung, dan abu. Lalu menyiram tubuh mereka dengan minyak dan untuk menghilangkan minyak yang melekat dan kotoran digunakan alat dari metal yang disebut strigil.
Sabun termasuk salah satu jenis surfaktan yang terbuat dari minyak atau lemak alami. Surfaktan mempunyai struktur bipolar, bagian kepala bersifat hidrofilik dan bagian ekor bersifat hidrofobik. Karena sifat inilah sabun mampu mengangkat kotoran (biasanya lemak) dari badan atau pakaian.
Dewasa ini pemanfaatan sabun sebagai pembersih kulit makin menjadi trend dan beragam. Keragaman sabun yang dijual secara komersial terlihat pada jenis, warna, wangi dan manfaat yang ditawarkan. Berdasarkan jenisnya sabun dibedakan atas dua macam yaitu sabun padat (batangan) dan sabun cair.
Sabun transparan adalah sabun mandi yang berbentuk batangan dengan tampilan transparan, menghasilkan busa lebih lembut di kulit dan penampakannya lebih berkilau dibandingkan jenis sabun lainnya. Tampilan sabun transparan yang menarik mewah dan berkelas menyebabkan sabun transparan dijual dengan harga yang relatif lebih mahal. Pendirian industri sabun transparan merupakan salah satu jenis usaha yang cukup menjanjikan mengingat pasar sabun transparan belum jenuh dan masih terbuka lebar.

B. Tujuan
Uji coba ini bertujuan untuk menghasilkan bahan ajar yang akan digunakan dalam pendidikan dan pelatihan (DIKLAT) kompetensi yang berbasis pada teknologi minyak nabati, bagi guru program keahlian kimia industri. Adapun target yang diharapkan adalah sebagai berikut :
 Menemukan formula pembuatan sabun transparan
 Pengujian mutu sabun transparan yang meliputi uji karakteristik (properties) dan penggunaan (performance)
 Penyusunan bahan ajar untuk materi diklat
 Meningkatkan kompetensi SDM

II. PROSPEK

Jasa penyelenggaraan diklat pembuatan sabun mempunyai prospek yang bagus, karena trend sabun transparan sebagai sabun obat/ kecantikan maupun sebagai suvenir meningkatkan keinginan orang untuk mempelajari cara pembuatan sabun transparan. Laboratorium pengujian VEDCA dapat dijadikan tempat pengujian mutu sabun transparan yang meliputi uji karakteristik (properties) dan penggunaan (performance). Hanya saja Laboratorium Pengujian VEDCA belum dapat memenuhi kebutuhan tersebut karena keterbatasan kemampuan sumber daya manusia, materi pembelajaran (bahan ajar), bahan dan alat penunjang yang diperlukan.
Prediksi konsumen yang akan menggunakan produk sabun transparan adalah:
No. Jenis produk Prediksi Pelanggan
1. Uji coba sabun transparan Konsumen rumah tangga, hotel, losmen, wisma,serta maklon.
2. Diklat pembuatan sabun transparan Sekolah, Masyarakat, Intansi-intansi baik pemerintah maupun swasta

Posted in pertanian | Leave a Comment »

Cara Membuat Yoghurt

Posted by haryvedca on August 23, 2010

Pendahuluan

A. Latar belakang

Protein sebagai salah satu komponen gizi yang dibutuhkan manusia.Protein ini dapat diperoleh dari bahan nabati ataupun hewani.Dari bahan hewani salah satunya adalah dari susu.Susu dianjurkan untuk dikonsumsi sebagai pola menu empat sehat lima sempurna.Susu mengandung protein yang langsung diserap.

Didaerah yang menghasilkan susu cukup tinggi,kadang – kadang sering terjadi kerusakan karena tidak cepat terjual hal ini sangat merugikan bagi peternak susu.Untuk itu  perlu adanya penanganan susu yang sederhana dan menjanjikan keuntungan yang lumayan adalah pegolahan yoghurt.Dan saat ini yoghurt dalam bentuk flavoured yoghurt cair dingin atau pun beku sangat digemari dikalangan anak – anak ataupun  remaja,khususnya dikota – kota besar.

Mengkonsumsi susu sangat bermanfaat bagi kecukupan gizi masyarakat karena yoghurt memiliki gizi yang cukup tinggi.Selain gizinya yang cukup tinggi juga bermanfaat bagi orang – orang yang tidak tahan gula susu ( laktosa ) atau sering dikenal dengan istilah lactose intolerance maka keterbatasannya dalam mengkonsumsi susu dapat diatasi dengan mengkonsumsi yoghurt.

TUJUAN PELATIHAN

B. Tujuan Pemelajaran Umum

Setelah pelatihan peserta diklat  mampu mengolah bahan hasil hewani menjadi produk yoghurt dengan kriteria cita rasa yang cukup asam,flavour yang baik.

C. Tujuan Pemelajaran Khusus

Setelah pelatihan peserta diklat mampu :

  1. Menyiapkan peralatan produksi
  2. Mengidentifikasi jenis – jenis bahan baku untuk proses produksi
  3. Memahami prinsip – prinsip dalam proses pembuatan yoghurt
  4. Menjelaskan prosedur atau proses pembuatan yoghurt
  5. Menilai mutu yoghurt
  6. Mengemas hasil produksi sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan

Prinsip- Prinsip Dalam Proses Pembuatan Yoghurt

Salah satu cara pengolahan dan pengawetan susu yang tertua adalah tehnologi pengemasan susu dilakukan dengan cara fermentasi.Salah satu produk fermentasi susu ini adalah yoghurt.Melalui proses fermenatasi ini maka susu akan memiliki konsitensi berupa pasta atau puding yang mempunyai cita rasa yang spesifik karena timbulnya senyawa – senyawa yang mudah menguap yang dihasilkan oleh bakteri stater.Stater atau biakan yang digunakan pada proses fermentasi yoghurt adalah Lactobacillus Bulgaricus dan Streptococcus termophillus.
Read the rest of this entry »

Posted in pertanian | 5 Comments »

Mewaspadai si Bulat Panjang : SOSIS

Posted by haryvedca on August 23, 2010

Mewaspadai si Bulat Panjang : SOSIS

Sosis atau sausage berasal dari kata salsus yang berarti menggiling dengan garam. Sesuai dengan namanya, sosis merupakan produk olahan daging yang digiling.
Pada zaman dahulu, sosis dibuat dengan cara sederhana.  Daging digiling dan dihaluskan, dicampur bumbu, kemudian diaduk dengan lemak hingga tercampur rata dan dimasukkan ke dalam selongsong.

Bahan baku yang dipakai dalam pembuatan sosis adalah daging.  Biasanya diambil potongan daging yang tidak terlalu bagus, seperti chack, flank atau bisket.   Daging ini bisa berasal dari bermacam-macam hewan.  Yang paling sering digunakan adalah daging Sapi dan Babi.  Belakangan ayam juga  sering dipakai sebagai bahan baku sosis.
Sedangkan di Jepang banyak dikembangkan sosis ikan (fish sausage).   Sedangkan bahan tambahan yang digunakan adalah lemak.
Gawatnya, untuk menghasilkan sosis yang baik, orang banyak menggunakan lemak hewani.   Dengan lemak hewani ini, tekstru sosis menjadi lebih baik.  Sedangkan lemak nabati yang biasanya cair pada suhu kamar akan menghasilkan tekstur yang lebih lunak.

Mula-mula daging dibersihkan terlebih dahulu kemudian digiling dengan penggiling daging.
Penggilingan ini dimaksudkan untuk memotong serat-serat daging.  Daging giling kemudian dicampur dengan air es, garam dan bumbu, lalu diaduk menggunakan alat pengaduk chopper. Pencampuran ini dilakukan pada suhu 4 – 8ºC.  Tujuan utama proses ini adalah untuk mengekstrak protein dari daging.

Penggunaan garam, selain untuk rasa juga berfungsi untuk melarutkan protein yang larut dalam garam.  Protein inilah yang nantinya akan berfungsi sebagai pengemulsi alami dalam pembentukan emulsi sosis.  Pengadukan diteruskan dengan menambah lemak.   Pada pencampuran lemak ini suhu dinaikkan menjadi 10-12ºC untuk menambah kelarutan lemak dan mempermudah terbentuknya emulsi.

Campuran ini kemudian dimasukkan ke dalam tempat pengemulsi (emulsitator) untuk membentuk emulsi yang stabil.
Suhu emulsitator berkisar antara 18ºC – 20ºC.  Emulsi yang sudah terbentuk secara stabil ini kemudian dimasukkan ke dalam selongsong (casing) dengan menggunakan alat stuffer.  Tahap akhir adalah perebusan sosis untuk mendapatkan sosis masak.
Perebusan ini dilakukan secara bertahap untuk menghindari pemuaian yang terlalu cepat.   Pemuaian yang cepat bisa menyebabkan sosis pecah.
Titik Kritis

Melihat bahan baku dan bahan penolong yang digunakan serta proses pembuatannya, ada bebeapa titik kritis yang perlu diwaspasai mengenai kehalalan sosis.
Pertama, yang harus dilihat adalah bahan bakunya, yaitu daging.   Daging tersebut harus berasal dari hewan halal, sepeti sapi, ayam atau ikan.   Kadang-kadang sosis bida juga terbuat dari campuran beberapa daging, seperti sapi dan babi.  Ini juga perlu diwaspadai, karena kadang-kadang hanya dituliskan daging yang paling banyak porsinya.
Kemudian setelah itu harus dilihat juga cara pemotongan hewannya.  Sebab banyak hewan yang dipotong diluar negeri tidak dilakukan berdasarkan syariat islam.

Kedua, hal yang tak kalah pentingnya adalah lemak yang digunakan.   Kebanyakan sosis dibuat dari lemak hewani karena akan menghasilkan tekstur yang lebih baik.  Jika benar berasal dari hewan, maka kita harus mencermati berasal ari hewan apa.  Sebab kebanyakan lemak hewani yang beredar berasal dari lemak Babi karena lebih murah dan produksinya tinggi.
Sebenarnya lemak Nabati bisa juga digunakan untuk pembuatan sosis.  Caranya, minyak tersebut harus dikentalkan lebih dahulu dengan menambahkan air dan pengemulsi.   Pengemulsi yang sering digunakan untuk keperluan ini anatar lain casein dan gum arabic.

Sebenarnya emulsi sosis dapat terbentuk tanpa harus menggunakan pengemulsi tambahan, karena didalam daging itu sendiri telah terdapat pengemulsi alami berupa protein.   Namun kadang-kadang untuk meningkatkan kualitas  penampakan, masih ditambahkan beberapa pengemulsi tambahan yang berfungsi sebagai pengikat (binder). Pengikat yang biasa dipakai bisa berasal dari bahan kimia (chemical binder) atau bahan alami (natural binder).  Pengikat kimiawi yang sering dipakai adalah garam polisofat.
Sedangkan yang perlu dicermati adalah bahan pengikat alami.  Bahan ini bisa berasal dari bahan nabati, tetapi bisa juga berasal dari hewani, seperti kasein, tepung susu skim dan tepung darah.

Terakhir, harus dilihat jenis dan spesifikasi selongsong (casing) yang dipakai.  Selongsong dibuat dari protein yang diekstrak dari hewan, bisa domba muda bisa juga dari babi.
Untuk itu perlu dicermati berasal dari hewan apa, bagaimana penyembelihannya dan seterusnya.

(Joeit@/IHC/sumber : Jurnal Halal No. 07 )

Posted in pertanian | Leave a Comment »

Cara Membuat Dendeng

Posted by haryvedca on August 23, 2010

DENDENG
1. PENDAHULUAN

Dendeng adalah irisan kering daging yang telah diberi bumbu, dan kadangkadang telah mengalami proses pemasakan. Dengan demikian dendeng berbeda dengan daging kering yang tidak diberi bumbu (kecuali garam).

Pembuatan dendeng tidak sulit, dan dapat dilakukan dengan alat-alat yang biasa terdapat di rumah tangga.

2. BAHAN

  1. Daging
  2. Bumbu. Setiap 1 kg daging dibutuhkan gula (200 gram), asam jawa (40 gram), bawang merah (50 gram), bubuk ketumbar (20 gram), lengkuas (30 gram), garam (300 gram), dan bawang putih (100 gram).

3. PERALATAN

  1. Pisau. Alat ini digunakan untuk mengiris daging menjadi irisan tipis. Pisau yang digunakan hendaknya tajam, tipis dan dari logam stainless steel.
  2. Pengantung daging. Alat ini digunakan untuk menggantung daging ukuran besar yang akan diiris.
  3. Talenan. Alat ini digunakan untuk mengeringkan irisan daging (kalau tidak digunting).
  4. Pengering. Alat ini digunakan untuk mengeringkan irisan daging. Pengering dapat berupa alat penjemur sederhana, atau berupa alat pengering yang berbahan bakar (minyak, kayu bakar, atau arang), bertenaga listrik atau bertenaga cahaya matahari.
  5. Keranjang peniris. Alat ini digunakan untuk meniriskan daging setelah direndam dengan larutan garam.
  6. Penggiling bumbu. Alat ini digunakan untuk menggiling bumbu dendeng.
  7. Panci. Alat ini digunakan untuk merebus bumbu.
  8. Kulkas. Alat ini digunakan untuk menyimpan daging yang direndam di dalam larutan bumbu.

4. CARA PEMBUATAN

  1. Pengirisan daging. Daging diiris tipis-tipis. Sedapat mungkin pemotongan mengikuti arah jaringan otot. Ada dua cara pengirisan, yaitu:
    1. Daging digantung pada alat penggantung, kemudian diiris tipis-tipis
    2. Daging ditempatkan di atas talenan, kemudian diiris tipis-tipis.
      Irisan dapat dibuat dalam berbagai ukuran, seperti

      1. irisan kecil: irisan dengan panjang 1 cm dan lebar 1 cm
      2. irisan sedang: irisan dengan panjang dan lembar antara 3~5 cm
      3. irisan panjang: irisan dengan panjang >5 cm dan lebar 3~5 cm.
  2. Pembuatan larutan bumbu
    1. Lengkuas, bawang putih, dan bawang merah digiling halus. Bumbubumbu ini dicampur dengan gula, asam jawa dan bubuk ketumbar.
    2. Air sebanyak 1 liter direbus sampai mendidih. Kemudian ditambahkan bumbu yang telah disiapkan di atas. Campuran tersebut dididihkan selama 30 menit sambil diaduk-aduk sampai kental. Setelah itu larutan bumbu didinginkan.
  3. Perendaman di dalam larutan bumbu.
    1. Irisan daging direndam du dalam larutan bumbu selama semalaman pada suhu dingin di dalam kulkas.
    2. Setelah itu, daging dikeluarkan dari larutan bumbu, dan dimasukkan ke dalam kantong plastik tersebut di biarkan di udara terbuka sampai suhunya tidak dingin lagi (sama dengan suhu kamar).
  4. Pengeringan. Setelah daging di dalam kantong tidak dingin lagi, daging dikeluarkan dari kantong, kemudian segera dijemur atau dikeringkan dengan alat pengering sampai kadar air di bawah 10%. Irisan daging yang berukuran panjang harus digantung pada saat pengeringan. Hasil pengeringan disebut dengan dendeng mentah.
  5. Pengemasan. Dendeng mentah yang telah kering dapat disimpan di dalam kantong plastik.
  6. Penggorengan. Dendeng daging yang telah kering dapat digoreng di dalam minyak panas (1700) selama 30-60 detik sambil dibolak-balik, kemudian cepat-cepat diangkat dan ditiriskan.

5. KONTAK HUBUNGAN
Dewan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Industri Sumatera Barat, Jl. Rasuna Said, Padang Baru, Padang, Telp. 0751 40040, Fax. 0751 40040


DENDENG GILING

1. PENDAHULUAN

Daging adalah urat yang melekat pada kerangka kecuali urat dari bagian bibir, hidung dan telinga dari hewan yang sehat sewaktu dipotong. Daging terdiri dari otot, jaringan penghubung dan jaringan lemak.

Daging merupakan salah satu bahan pangan bergizi tinggi disamping telur, susu dan ikan. Daging mengandung protein, lemak, mineral, air serta vitamin dalam susunan yang berbeda tergantung jenis makanan dan jenis hewan. Hewan yang berbeda mempunyai komposisi daging yang berbeda pula.

Komposisi daging terdiri dari 75% air, 18% protein, 4% protein yang dapat larut (termasuk mineral) dan 3% lemak. Ternak rata-rata menghasilkan karkas (bagian badan hewan) 55%, macam-macam hasil sampingan 9%, kulit 6% dan bahan lainnya 30%. Daging yang baik ditentukan oleh warna, bau, penampakan dan kekenyalan. Semakin daging tersebut lembab atau basah serta lembek (tidak kenyak) menunjukan kualitas daging yang kurang baik.

Pengawetan daging merupakan suatu cara menyimpan daging untuk jangka waktu yang cukup lama agar kualitas maupun kebersihannya tetap terjaga. Tujuan pengawetan adalah menjaga ketahanan terhadap serangan jamur (kapang), bakteri, virus dan kuman agar daging tidak mudah rusak. Ada beberapa cara pengawetan yaitu: pendinginan, pelayuan, pengasapan, pengeringan, pengalengan dan pembekuan.

Sebaiknya daging hewan yang baru saja disembelih tidak cepat-cepat dimasak, tetapi ditunggu beberapa lama atau dilayukan terlebih dahulu. Untuk daging sapi atau daging kerbau dapat dimasak sesudah pelayuan selama 12~24 jam; daging kambing, domba, babi sesudah 8~12 jam, sedangkan untuk daging pedet (anak sapi) sesudah 4~8 jam. Usaha pengawetan daging diperlukan untuk memenuhi selera atau kebutuhan konsumen serta mempermudah dalam pengangkutan.

Pengawetan dengan cara pengeringan dilakukan dengan penambahan garam, gula dan bahan kimia seperti nitrat (NO3) dan nitrit (NO2). Penambahan garam, untuk pengawetan daging kira-kira sepersepuluh dari berat daging. Disamping sebagai pengawet, garam juga berfungsi sebagai penambah rasa.

Penambahan gula juga dimaksudkan sebagai penambahan rasa pada bahan yang diolah. Untuk melunakkan daging sebelum diolah, daging dibungkus dengan daun pepaya yang mengandung enzim papain atau dilumuri dengan parutan buah nenas yang mengandung enzim bromolin.

Contoh hasil olahan dan pengawetan daging adalah abon, dendeng sayat, dendeng giling, dendeng ragi, daging asap, kornet, sosis dan sebagainya. Dendeng giling adalah daging yang digiling berupa lembaran tipis dan diberi bumbu, kemudian dikeringkan. Pembuatan dendeng giling tidak memerlukan daging yang berkualitas baik.

2. BAHAN

1) Daging 4 kg
2) Gula merah 1 kg
3) Garam 2 ons
4) Bawang putih 60 gram
5) Asam Jawa 40 gram
6) Lengkuas 12 gram
7) Ketumbar 4 ons

3. ALAT

1) Alat penggiling daging (jika ada)
2) Baskom
3) Rak bumbu
4) Jerami bersih dan kering
5) Sendok
6) Pisau
7) Alat penghancur bambu (cobek dan ulekan)
8) Kayu bundar atau botol

4. CARA PEMBUATAN

  1. Giling daging sapi yang telah dicuci bersih dengan alat penggiling daging.
    Jika tidak ada penggilingan daging, dapat dicincang sampai halus;
  2. Campur dengan bumbu yang telah dihaluskan, kemudian buat menjadi lembaran tebal kira-kira 3 mm dengan cara mengepresnya dengan kayu bundar atau botol;
  3. Susun pada rak bambu yang dilapisi dengan merang bersih;
  4. Keringkan dibawah sinar matahari selama 3~5 hari, dapat juga dengan oven pada suhu 500~600 C selama 4~6 jam;
  5. Kemas dalam kantong plastik.

5. DIAGRAM ALIR PEMBUATAN DENDENG GILING

6. KEUNTUNGAN
Bahan lebih murah karena tidak membutuhkan daging yang berkualitas baik.

7. KERUGIAN
1) Dendeng giling tidak selezat dendeng sayat sebab dalam proses penggilingan atau pencacahan sejumlah zat pembentuk rasa akan hilang.
2) Pada umumnya dendeng giling lebih cepat rusak daripada dendeng sayat.

Catatan:

  1. Ketebalan dendeng giling dapat diatur secara merata sehingga mempercepat proses penggeringan .
  2. Pengeringan dengan oven perlu dijaga, terutama mengenai tinggi, suhu dan lama pengeringan sehingga tidak merusak kualitas dendeng secara alami maupun kimiawi.

Tabel 1. Komposisi Dendeng Giling

KOMPONEN KADAR (%)
Protein 13,80 %
Lemak 9,00 %
Karbohidrat 52,00 %
Air 25,00 %
Ca (mg/ 100 gram) 30,00 %
P (mg/ 100 gram) 270,00 %
Fe (mg/ 100 gram) 5,10 %

8. DAFTAR PUSTAKA

1) Palupi, W.D.E. Tinjauan literatur pengolahan daging. Jakarta: Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah-LIPI, 1986. 54 hal.
2) Winarno, F.G; Srikandi Fardiaz, dan Djunjung Daulay. Indonesia traditional food processing. Bogor : IPB, 1973
3) Berkas lembaran petunjuk latihan teknologi makanan. Yogyakarta: Pendidikan Guru Pertanian PGP-Kejuruan Teknologi Makanan, 1975

9. KONTAK HUBUNGAN
Pusat Informasi Wanita dalam Pembangunan, PDII, LIPI, Jl. Jend. Gatot Subroto 10 Jakarta 12910.


DENDENG RAGI

1. PENDAHULUAN

Daging adalah urat yang melekat pada kerangka kecuali urat dari bagian bibir, hidung dan telinga dari hewan yang sehat sewaktu dipotong. Daging terdiri dari otot, jaringan penghubung dan jaringan lemak.

Daging merupakan salah satu bahan pangan bergizi tinggi disamping telur, susu dan ikan. Daging mengandung protein, lemak, mineral, air serta vitamin dalam susunan yang berbeda tergantung jenis makanan dan jenis hewan. Hewan yang berbeda mempunyai komposisi daging yang berbeda pula.

Komposisi daging terdiri dari 75% air, 18% protein, 4% protein yang dapat larut (termasuk mineral) dan 3% lemak. Ternak rata-rata menghasilkan karkas (bagian badan hewan) 55%, macam-macam hasil sampingan 9%, kulit 6% dan bahan lainnya 30%. Daging yang baik ditentukan oleh warna, bau, penampakan dan kekenyalan. Semakin daging tersebut lembab atau basah serta lembek (tidak kenyak) menunjukan kualitas daging yang kurang baik.

Pengawetan daging merupakan suatu cara menyimpan daging untuk jangka waktu yang cukup lama agar kualitas maupun kebersihannya tetap terjaga. Tujuan pengawetan adalah menjaga ketahanan terhadap serangan jamur (kapang), bakteri, virus dan kuman agar daging tidak mudah rusak. Ada beberapa cara pengawetan yaitu: pendinginan, pelayuan, pengasapan, pengeringan, pengalengan dan pembekuan.

Sebaiknya daging hewan yang baru saja disembelih tidak cepat-cepat dimasak, tetapi ditunggu beberapa lama atau dilayukan terlebih dahulu. Untuk daging sapi atau daging kerbau dapat dimasak sesudah pelayuan selama 12~24 jam; daging kambing, domba, babi sesudah 8~12 jam, sedangkan untuk daging pedet (anak sapi) sesudah 4~8 jam. Usaha pengawetan daging diperlukan untuk memenuhi selera atau kebutuhan konsumen serta mempermudah dalam pengangkutan.

Pengawetan dengan cara pengeringan dilakukan dengan penambahan garam, gula dan bahan kimia seperti nitrat (NO3) dan nitrit (NO2). Penambahan garam, untuk pengawetan daging kira-kira sepersepuluh dari berat daging. Disamping sebagai pengawet, garam juga berfungsi sebagai penambah rasa.

Penambahan gula juga dimaksudkan sebagai penambahan rasa pada bahan yang diolah. Untuk melunakkan daging sebelum diolah, daging dibungkus dengan daun pepaya yang mengandung enzim papain atau dilumuri dengan parutan buah nenas yang mengandung enzim bromolin.

Contoh hasil olahan dan pengawetan daging adalah abon, dendeng sayat, dendeng giling, dendeng ragi, daging asap, kornet, sosis dan sebagainya.

Dendeng ragi adalah makanan jadi, hasil olahan daging yang dicampur dengan parutan kelapa dan bumbu.

2. BAHAN

1) Daging sapi 1 kg
2) Kelapa parut 5 butir
3) Cabai merah 20 gram
4) Bawang merah 50 gram
5) Bawang putih 40 gram
6) Ketumbar 20 gram
7) Asam Jawa 12 mata
8) Garam 10 gram
9) Daun jeruk purut 8 lembar
10) Daun salam 8 lembar
11) Gula merah 6 ons
12) Kencur 20 gram
13) Laos 20 gram

3. ALAT

1) Alat perajang (talenan)
2) Pisau
3) Alat penghancur bumbu (cobekan dan ulekan)
4) Penggorengan (wajan)
5) Parutan kelapa
6) Baskom
7) Alat peniris
8) Kompor
9) Panci

4. CARA PEMBUATAN

1) Cuci daging sapi, kemudian iris tipis. (± 4 x 4 cm) dengan ketebalan sekitar (1/2 ~ 1 cm);
2) Parut kelapa, kemudian tumbuk bumbu sampai halus, kecuali lengkuas, daun jeruk purut, dan daun salam;
3) Campur dengan irisan daging, kemudian rebus dengan air secukupnya sampai lunak;
4) Apabila air rebusan tinggal sedikit, masukkan parutan kelapa, kemudian masak sampai air rebusan kering;
5) Gorengan campuran bahan tadi di atas api kecil sampai berwarna kekuningkuningan, kemudian tiriskan agar minyaknya turun;
6) Kemas dendeng ragi dalam kantong plastik atau stoples.

5. DIAGRAM ALIR PEMBUATAN DENDENG RAGI

6. KEUNTUNGAN
Dendeng ragi memiliki rasa yang lezat dan dapat disimpan pada suhu kamar sela 4 ~ 7 hari tanpa mengalami kerusakan.

Catatan:
Selama penyimpanan, tempat dan temperatus perlu diperhatikan, untuk menghindari proses menjadi tengik karena adanya kelapa.

7. DAFTAR PUSTAKA
1) Palupi, W.D.E. Tinjauan literatur pengolahan daging. Jakarta: Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah-LIPI, 1986. 54 hal.
2) Simarmata, J.P. Pembuatan dendeng ragi . Buletin Pusbangtepa, Mei 1981: 17-21.


DENDENG SAYAT

1. PENDAHULUAN

Daging adalah urat yang melekat pada kerangka kecuali urat dari bagian bibir, hidung dan telinga dari hewan yang sehat sewaktu dipotong. Daging terdiri dari otot, jaringan penghubung dan jaringan lemak.

Daging merupakan salah satu bahan pangan bergizi tinggi disamping telur, susu dan ikan. Daging mengandung protein, lemak, mineral, air serta vitamin dalam susunan yang berbeda tergantung jenis makanan dan jenis hewan. Hewan yang berbeda mempunyai komposisi daging yang berbeda pula.

Komposisi daging terdiri dari 75% air, 18% protein, 4% protein yang dapat larut (termasuk mineral) dan 3% lemak. Ternak rata-rata menghasilkan karkas (bagian badan hewan) 55%, macam-macam hasil sampingan 9%, kulit 6% dan bahan lainnya 30%. Daging yang baik ditentukan oleh warna, bau, penampakan dan kekenyalan. Semakin daging tersebut lembab atau basah serta lembek (tidak kenyak) menunjukan kualitas daging yang kurang baik.

Pengawetan daging merupakan suatu cara menyimpan daging untuk jangka waktu yang cukup lama agar kualitas maupun kebersihannya tetap terjaga. Tujuan pengawetan adalah menjaga ketahanan terhadap serangan jamur (kapang), bakteri, virus dan kuman agar daging tidak mudah rusak. Ada beberapa cara pengawetan yaitu: pendinginan, pelayuan, pengasapan, pengeringan, pengalengan dan pembekuan.

Sebaiknya daging hewan yang baru saja disembelih tidak cepat-cepat dimasak, tetapi ditunggu beberapa lama atau dilayukan terlebih dahulu. Untuk daging sapi atau daging kerbau dapat dimasak sesudah pelayuan selama 12~24 jam; daging kambing, domba, babi sesudah 8~12 jam, sedangkan untuk daging pedet (anak sapi) sesudah 4~8 jam. Usaha pengawetan daging diperlukan untuk memenuhi selera atau kebutuhan konsumen serta mempermudah dalam pengangkutan.

Pengawetan dengan cara pengeringan dilakukan dengan penambahan garam, gula dan bahan kimia seperti nitrat (NO3) dan nitrit (NO2). Penambahan garam, untuk pengawetan daging kira-kira sepersepuluh dari berat daging. Disamping sebagai pengawet, garam juga berfungsi sebagai penambah rasa. Penambahan gula juga dimaksudkan sebagai penambahan rasa pada bahan yang diolah. Untuk melunakkan daging sebelum diolah, daging dibungkus dengan daun pepaya yang mengandung enzim papain atau dilumuri dengan parutan buah nenas yang mengandung enzim bromolin.

Contoh hasil olahan dan pengawetan daging adalah abon, dendeng sayat, dendeng giling, dendeng ragi, daging asap, kornet, sosis dan sebagainya.

Dendeng sayat adalah lembaran tipis daging sapi atau kerbau yang diberi bumbu. Dendeng dapat digunakan sebagai lauk setelah digoreng.

2. BAHAN

1) Daging sapi atau kerbau (tidak berlemak) 4 kg
2) Gula merah 1 kg
3) Garam 4 ons
4) Ketumbar 2 ons
5) Jinten 1 ons
6) Bawang merah 1 ons
7) Bawang putih 2 ½ ons
8) Lengkuas (laos) ½ kg
9) Lada (bila perlu) secukupnya
10) Jahe (bila perlu) secukupnya
11) Sendawa (NANO3) (0,1%) 4 gram

3. ALAT

1) Pisau
2) Alas perajang (talenan)
3) Tampah
4) Panci dan baskom
5) Merang bersih (bila perlu)
6) Alat penghancur bumbu (cobek dan ulekan)
7) Sendok

4. CARA PEMBUATAN

1) Pilih daging yang baik, kemudian cuci sampai bersih;
2) Sayat daging tipis-tipis dengan ketebalan kira-kira 3 ~ 5 mm;
3) Bumbu-bumbu (lengkuas, jinten, ketumbar, bawang merah, bawang putih, garam) tumbuk sampai halus dan tambahkan sedikit air;
4) Potong-potong gula merah kemudian rebus dengan sedikit air. Bumbubumbu yang sudah dihaluskan masukkan ke dalam rebusan air;
5) Setelah gula hancur, tuangkan campuran gula danbumbu pada daging yang sudah diiris tipis tadi, aduk sampai rata, kemudian diamkan selama 1 jam;
6) Angkat daging berbumbu, letakkan diatas tampah yang dilapisi merang bersih;
7) Jemur di bawah sinar matahari sampai kering, kira-kira 6 ~ 7 hari (tergantung cuaca). Usahakan agar seluruh permukaan daging terkena sinar matahari;
8) Daging yang sudah dijemur dapat disimpan dalam stoples, kantong plastik, atau besek.

5. DIAGRAM ALIR PEMBUATAN DENDENG SAYAT

6. KEUNTUNGAN
Penggering daging dengan sinar matahari adalah mudah, murah, serta tidak merusak kandungan protein.

Catatan:

  1. Selama penyimpanan, perlu diperhatikan dan dijaga agar kadar air dendeng tetap stabil;
  2. Pengeringan dendeng dengan sinar matahari, perlu diperhatikan agar sinar tidak terlalu panas. Hal tersebut akan menyebabkan permukaan dendeng menjadi retak. Sebaliknya, apabila sinar matahari kurang panas dan tidak terus menerus maka kapang atau jamur akan mudah tumbuh.

7. DAFTAR PUSTAKA

1) Palupi, W.D.E. Tinjauan literatur pengolahan daging. Jakarta: Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah-LIPI, 1986. 54 hal.
2) Dendeng giling produk yang terlupakan. Selera, VI (5), Maret 1987: 53-55.
3) Winarno, F.G; S. Fardiaz; D. Dauly. Indonesian traditional food processing. Bogor: IPB, 1973.

8. KONTAK HUBUNGAN
Pusat Informasi Wanita dalam Pembangunan, PDII, LIPI, Jl. Jend. Gatot Subroto 10 Jakarta 12910.


DENDENG IKAN

1. PENDAHULUAN

Ikan merupakan bahan makanan yang banyak dikonsumsi masyarakat selain sebagai komoditi ekspor. Ikan cepat mengalami proses pembusukan dibandingkan dengan bahan makanan lain. Bakteri dan perubahan kimiawi pada ikan mati menyebabkan pembusukan. Mutu olahan ikan sangat tergantung pada mutu bahan mentahnya.

Tanda ikan yang sudah busuk:
- mata suram dan tenggelam;
- sisik suram dan mudah lepas;
- warna kulit suram dengan lendir tebal;
- insang berwarna kelabu dengan lendir tebal;
- dinding perut lembek;
- warna keseluruhan suram dan berbau busuk.

Tanda ikan yang masih segar:
- daging kenyal;
- mata jernih menonjol;
- sisik kuat dan mengkilat;
- sirip kuat;
- warna keseluruhan termasuk kulit cemerlang;
- insang berwarna merah;
- dinding perut kuat;
- bau ikan segar.

Ikan merupakan salah satu sumber protein hewani yang banyak dikonsumsi masyarakat, mudah didapat, dan harganya murah. Namun ikan cepat mengalami proses pembusukan. Oleh sebab itu pengawetan ikan perlu diketahui semua lapisan masyarakat. Pengawetan ikan secara tradisional bertujuan untuk mengurangi kadar air dalam tubuh ikan, sehingga tidak memberikan kesempatan bagi bakteri untuk berkembang biak. Untuk mendapatkan hasil awetan yang bermutu tinggi diperlukan perlakukan yang baik selama proses pengawetan seperti : menjaga kebersihan bahan dan alat yang digunakan, menggunakan ikan yang masih segar, serta garam yang bersih. Ada bermacam-macam pengawetan ikan, antara lain dengan cara: penggaraman, pengeringan, pemindangan, perasapan, peragian, dan pendinginan ikan.

Tabel 1. Komposisi Ikan Segar per 100 gram Bahan

KOMPONEN KADAR (%)
Kandungan air 76,00
Protein 17,00
Lemak 4,50
Mineral dan vitamin 2,52-4,50

Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa ikan mempunyai nilai protein tinggi, dan kandungan lemaknya rendah sehingga banyak memberikan manfaat kesehatan bagi tubuh manusia.

Manfaat makan ikan sudah banyak diketahui orang, seperti di negara Jepang dan Taiwanikan merupakan makanan utama dalam lauk sehari-hari yang memberikan efek awet muda dan harapan hidup lebih tinggi dari negara lainnya. Penggolahan ikan dengan berbagai cara dan rasa menyebabkan orang mengkonsumsi ikan lebih banyak.

Dendeng ikan adalah jenis makanan awetan yang dibuat dengan cara pengeringan dengan menambah garam, gula, dan bahan lain untuk memperoleh rasa yang diinginkan.

2. BAHAN

1) Ikan tamban sisik (lemuru, cucut) 20 kg
2) Gula merah 2 kg
3) Ketumbar 2 ons
4) Garam 1 kg
5) Bawang merah ½ ons
6) Bawang putih 2 ons
7) Asam jawa 7 mata
8) Lengkuas (laos) secukupnya

3. ALAT

1) Pisau
2) Alas perajang (talenan)
3) Keranjang peniris (ayakan bambu)
4) Penghancur bumbu (cobek)
5) Ember
6) Baskom
7) Panci
8) Saringan halus
9) Tampah (nyiru)

4. CARA PEMBUATAN

1) Bersihkan ikan, buang kepala dan isi perutnya;
2) Belah dan buang tulangnya lalu cuci. Untuk ikan yang lebih besar dan tebal iris dengan ukuran panjang 7 cm, tebal ½ cm, dan lebar 5 cm;
3) Masukkan garam ke dalam 3 liter air kemudian rendam ikan selama 5 jam;
4) Masak 8 liter air sampai mendidih, masukkan semua bumbu yang telah dihaluskan kemudian aduk-aduk sampai rata;
5) Saring supaya ampas ketumbar terpisah, kemudian dinginkan;
6) Masukkan ikan yang sudah digarami tadi ke dalam larutan bumbu. Rendam selama ± 10 jam;
7) Tiriskan, kemudian jemur di atas nyiru atau tampah;
8) Balik-balik ikan tiap 4 jam sekali supaya pengeringan rata;
9) Sebelum dihidangkan, goreng dendeng terlebih dahulu (± ½ menit) dalam minyak panas.

5. DIAGRAM ALIR PEMBUATAN DENDENG IKAN

6. DAFTAR PUSTAKA

1) Berbagai cara pengolahan dan pengawetan ikan. Yogyakarta : Proyek Pengembangan Penyuluhan Pertanian Pusat, Departemen Pertanian, 1987. Hal. 35
2) Pengolahan ikan. Subang : Balai Pengembangan Teknologi Tepat Guna, Puslitbang Fisika Terapan-LIPI, 1990. Hal. 26-34.
3) Teknologi desa. Jakarta : Direktorat Pengembangan dan Perluasan Kerja, 1983. Seri PengolahanPangan. Hal. 14-16.

7. KONTAK HUBUNGAN
Pusat Informasi Wanita dalam Pembangunan, PDII, LIPI, Jl. Jend. Gatot Subroto 10 Jakarta 12910.


DENDENG IKAN

1. PENDAHULUAN

Dendeng ikan adalah ikan kering yang telah diberi bumbu, dan kadang-kadang telah mengalami proses proses pemasakan. Dengan demikian, dendeng berbeda dengan daging kering yang tidak diberi bumbu (kecuali garam). Pembuatan dendeng tidak sulit, dan dapat dilakukan dengan alat-alat yang
biasa terdapat di rumah tangga.

2. BAHAN

  1. Ikan. Dianjurkan menggunakan ikan berukuran sedang yang kurang bernilai ekonomis. Ikan tamban merupakan salah satu jenis ikan berukuran sedang yang dapat diolah menjadi dendeng ikan. Ikan ini mempunyai tekstur daging lunak, dan berduri halus di dalam daging. Adanya duri halus tersebut menyebabkan ikan tamban paling cocok diolah menjadi produk kering seperti dendeng. Rasa dendeng tamban sangat enak dan tidak sulit membuatnya.
  2. Bumbu. Setiap 1 kg ikan membutuhkan gula (200 gram), asam jawa (40 gram), bawang merah (50 gram), bubuk ketumbar (20 gram), lengkuas (30 gram), garam (300 gram), bawang putih (100 gram).

3. PERALATAN

  1. Pisau dan talenan. Alat ini digunakan untuk menyiangi dan mengiris daging ikan menjadi irisan tipis. Pisau yang digunakan hendaknya tajam, tipis dan terbuat dari logam stainless steel.
  2. Pengering. Alat ini digunakan untuk mengeringkan ikan. Pengering dapat berupa alat penjemur sederhana, atau berupa alat pengering yang berbahan bakar (minyak, kayu bakar, atau arang), bertenaga listrik atau bertenaga cahaya matahari.
  3. Keranjang peniris. Alat ini digunakan untuk meniriskan ikan setelah direndam dengan larutan garam.
  4. Penggiling bumbu. Alat ini digunakan untuk menggiling bumbu dendeng.
  5. Panci. Alat ini digunakan untuk merebus bumbu.
  6. Kulkas. Alat ini digunakan untuk menyimpan ikan yang direndam di dalam larutan bumbu.

4. CARA PEMBUATAN

1) Proses Pendahuluan

  1. Penyiangan.
    Ikan disiangi dan dibelah seperti yang dilakukan terhadap ikan yang akan dikeringkan.
  • Bagian di bawah insang dipotong tanpa menyebabkan kepala ikan terpotong.
  • Kemudian perut ikan dibelah dari anus ke arah insang tanpa melukai jeroannya.
  • Perut yang sudah terbelah dibuka. Jeroan dan insang dibuang.
  • Bagian dalam perut disikat dengan ujung pisau untuk membuang sisasisa darah.
  • Setelah itu, ikan dicuci sampai bersih.
  1. Pembelahan. Ikan dibelah pada bagian perut. Pembelahah dimulai dari kepala ke arah ekor tanpa menyebabkan bagian punggung terpotong.
  2. Pembuangan tulang belakang. Belahan ikan yang telah dibelah dibuka, kemudian tulang belakang ditarik dengan pinset sampai terlepas.

2) Pembuatan Larutan Bumbu

  1. Lengkuas, bawang putih, dan bawang merah digiling halus. Bumbubumbu ini dicampur dengan gula, asam jawa dan bubuk ketumbar.
  2. Air sebanyak 1 liter direbus sampai mendidih. Kemudian ditambahkan bumbu yang telah disiapkan di atas. Campuran tersebut dididihkan sambil diaduk-aduk selama 30 menit sampai kental. Setelah itu larutan bumbu didinginkan.

3) Perendaman di dalam Larutan Bumbu

  1. Ikan direndam di dalam larutan bumbu semalam pada suhu dingin di dalam kulkas.
  2. Setelah out, ikan dikeluarkan dari larutan bumbu, dan dimasukkan ke dalam kantong plastik, kemudian plastik ditutup rapat. Kantong plastik tersebut dibiarkan di udara terbuka sampai suhunya tidak dingin lagi (sama dengan suhu kamar).

4) Pengeringan.

Setelah ikan di dalam kantong tidak dingin lagi, ikan dikeluarkan dari kantong, kemudian segera dijemur atau dikeringkan dengan alat pengering sampai kadar air di bawah 10 %. Selama pengeringan, ikan dibalik-balik agar pengeringan merata dan lebih cepat. Hasil pengeringan disebut dengan dendeng mentah ikan.

  1. Pengemasan. Dendeng mentah ikan dapat disimpan di dalam kantong plastik.
  2. Penggorengan. Dendeng ikan yang telah kering dapat digoreng di dalam minyak panas (1700) selama 30~60 detik sambil dibalik-balik, kemudian cepat-cepat diangkat dan ditiriskan.

5. KONTAK HUBUNGAN
Dewan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Industri Sumatera Barat, Jl. Rasuna Said, Padang Baru, Padang, Telp. 0751 40040, Fax. 0751 40040

Posted in pertanian | 3 Comments »

Budidaya domba

Posted by haryvedca on August 15, 2010

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Domba adalah salah satu jenis ternak yang telah lama dikenal oleh masyarakat. Pada umumnya, domba dipelihara untuk diambil dagingnya.

Pemeliharaan domba banyak dilakukan di daerah pedesaaan, dengan cara tradisional. Namun seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tata laksana pemeliharaan domba yang lebih intensif menyebabkan adanya peningkatan bobot badan.

Dalam pemeliharaan, untuk meningkatkan produksi dan kualitas daging, dilakukan usaha penggemukan, yaitu persiapan perkandangan, pembibitan, pemberian pakan, teknik pemeliharaan, pengendalian penyakit dan analisa usaha.

B. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU)
Setelah mempelajari modul ini, dengan disediakan alat dan bahan, Anda mampu melakukan usaha penggemukan domba dengan kriteria adanya kesiapan untuk melaksanakan penggemukan domba.

C. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)
Setelah mempelajari modul ini, Anda:
1. Mampu melakukan persiapan kandang dengan benar, apabila disediakan kandang, peralatan dan bahan desinfektan.
2. Mampu melakukan pemilihan bibit untuk penggemukan domba dengan benar apabila disediakan bahannya (domba).
3. Mampu untuk menyusun ransum dengan benar, apabila disediakan alat dan bahannya.
4. Mampu melakukan teknik pemeliharaan domba dengan benar apabila disediakan alat dan bahannya.
5. Mampu mengendalikan penyakit domba dengan benar apabila disediakan alat dan bahannya.
6. Mampu melakukan analisa usaha apabila disediakan data-datanya.
7. Mampu melakukan pemanenan apabila disediakan bahannya.
LEMBAR INFORMASI TPK 1

PERKANDANGAN

A. Fungsi Kandang

Kandang mempunyai fungsi yang identik rumah bagi manusia. Kandang yang baik mampu melindungi ternak terhadap pengaruh lingkungan yang berubah-rubah seperti angin, hujan danperubahan suhu. Peternak harus sadar bahwa kehidupan domba sepenuhnya berada dibawah pengawasan peternak, sehingga segala kebutuhan hidup ternak berada dibawah pengaturan dan tanggung jawab peternak. Kandang yang baik akan sangat berpengaruh besar terhadap peningkatan konversi pakan, laju pertumbuhan dan kesehatan.

Kegunaan kandang sangat penting bagi ternak domba penggemukan maupun bagi peternaknya, sebab kandang berfungsi:
Read the rest of this entry »

Posted in pertanian | Tagged: | Leave a Comment »

Budidaya ayam buras

Posted by haryvedca on August 15, 2010

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Ayam buras merupakan salah satu jenis ternak yang telah memasyarakat. Hampir di seluruh pelosok daerah di Indonesia terdapat ayam buras. Pada umumnya, ayam buras masih dipelihara dengan cara dilepas bebas tanpa disediakan kandang sebagai tempat hidup sehari-hari, seperti: makan, minum dan pengontrolan kesehatan.

Dengan pemeliharaan yang lebih intensif, ayam buras dapat diharapkan menjadi salah satu ternak sumber protein hewani. Pada sebagian masyarakat, daging dan telur ayam buras relatif lebih disukai dibanding daging dan telur ayam ras. Oleh karena itu, produksi telur dan daging ayam buras telah memiliki potensi pasar dan selera tersendiri di kalangan masyarakat.

Beberapa kegiatan yang perlu mendapat perhatian dalam memelihara ayam buras meliputi: persiapan kandang, pemilihan bibit, pemberian pakan dan air minum, pengendalian penyakit, serta pemanenan.

  1. Deskripsi Singkat Materi

Modul ini membahas tentang kandang persiapan kandang dan peralatan, pemilihan bibit, pemberian pakan dan air minum, pengendalian penyakit serta pemanenan pada budidaya ayam buras.

  1. Tujuan Pembelajaran Umum

Tujuan pembelajaran umum dari mata diklat ini adalah agar peserta pelatihan mampu melakukan budidaya ayam buras dengan benar, jika disediakan alat dan bahan dengan kriteria adanya kesiapan melaksanakan kegiatan pemeliharaan ayam buras.

  1. 4. Tujuan Pembelajaran Khusus

Adapun tujuan pembelajaran khusus  dari mata diklat ini, adalah

  1. Peserta diklat mampu melakukan persiapan kandang dan peralatan ayam buras dengan benar.
  2. Peserta diklat mampu melakukan pemilihan bibit ayam buras dengan benar sesuai kriteria.
  3. Peserta diklat mampu melakukan pemberian pakan dan air minum bagi ayam buras dengan benar.
  4. Peserta diklat mampu melakukan pengendalian penyakit ayam buras.
  5. Peserta diklat mampu melakukan kegiatan pemanenan ayam buras dengan benar.

LEMBAR INFORMASI TPK 1.
PERSIAPAN KANDANG DAN PERALATAN
Kandang dan Peralatan

Ayam buras diantaranya adalah ayam kampung  sudah begitu lama dikenal dan dibudidayakan masyarakat Indonesia yaitu sebelum orang mengenal ayam broiler. Untuk mulai berbudidaya ayam kampung tidaklah sulit sebab  ayam kampung tanpa diberi pakanpun akan tetap dapat hidup yaitu dengan cara mencari makan sendiri, tanpa memerlukan kandang maupun penanganan kesehatan yang khusus. Namun demikian untuk mendapatkan hasil yang opimal maka salah satunya dibutuhkan  kandang  yang memenuhi syarat kesehatan.

Kandang bagi ayam buras mempunyai kegunaan sebagai:

  1. Tempat tinggal
  2. Tempat berlindung dari terik matahari, hujan dan gangguan manusia serta binatang buas
  3. Tempat untuk mendapat jaminan kesehatan
  4. Tempat untuk berkembang biak.

Melihat pentingnya peranan kandang bagi ayam buras, tatalaksana perkandangan harus diperhatikan  dengan seksama, agar pemeliharaan ayam buras bisa berhasil.

Syarat perkandangan

Dalam pembuatan kandang perlu memperhatikan beberapa faktor yaitu :

  1. Masalah biologis ayam yang akan menempatinya
  2. Teknik pembuatan kandang yang berhubungan langsung dengan masalah bentuk dan kualitas bahan
  3. Masalah iklim, suhu, angin yang berhubungan langsung dengan temperatur dengan kelembaban kandang serta sirkulasi udara.
  4. Lokasi kandang
  5. Letak antar kandang
  6. Luas kandang
  7. Penyinaran dalam ruang
  8. Bahan bangunan kandang
  9. Peralatan kandang

Macam-macam kandang yang digunakan untuk pemeliharaan ayam buras :

∙       Kandang Ren (semi intensif)

Kandang ren digunakan untuk memelihara induk ayam buras. Model kandang ren adalah  bangunan kandang yang dilengkapi dengan halaman sebagai tempat umbaran.

Satu unit kandang ren dengan lahan seluas 6 m2 cukup untuk 6 ekor ayam betina dan satu ekor ayam jantan.

Satu unit kandang ren terdiri dari dua bagian yaitu bangunan kandang beratap dengan luas 2 m x 1 m dan halaman atau tempat umbaran seluas 2 m x 2 m.
Read the rest of this entry »

Posted in pertanian | Tagged: | Leave a Comment »

Pengenalan ayam pedaging (broiler)

Posted by haryvedca on August 15, 2010

Pengenalan ayam pedaging

(broiler)

Apakah ayam pedaging atau broiler itu? Broiler berasal dari kata “to broil” yang berarti memanggang”, yaitu suatu proses pemasakan sebentar, matang, dan empuk. Oleh karena itu, untuk mendapatkan daging ayam yang empuk diperlukan ayam baik jantan maupun betina yang muda dan berdaging. Pada waktu dahulu, untuk mendapatkannya diperlukan waktu sekitar 12 minggu. Namun, sekarang hanya diperlukan waktu 30 – 42 hari atau sekitar 6 minggu. Dengan demikian, ayam yang digunakan sebagai broiler adalah ayam ras pedaging. Jadi, yang dimaksud dengan ayam pedaging atau broiler adalah jenis ayam ras yang khusus dipelihara untuk menghasilkan daging.

Ayam pedaging  ini sudah dikenal oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia, baik di kota maupun di desa. Daging ayam ini sangat digemari karena rasanya enak dan lezat. Selain itu, daging broiler merupakan makanan sumber protein yang sangat baik untuk dikonsumsi. Pada umumnya daging broiler dikonsumsi dalam bentuk goreng, panggang, sate, dan soto. Kelebihan lain dari ayam pedaging adalah  mudah dalam pemeliharaan dan dalam jangka waktu yang relatif singkat  sudah dapat dipasarkan dengan bobot badan sekitar  1,6–1,8 kg.

Mengingat tujuan pemeliharaan ayam pedaging adalah  untuk memproduksi daging maka faktor yang harus diperhatikan dalam menentukan bangsa ayam penghasil daging antara lain:

  • Sifat dan kualitas daging yang dihasilkan;
  • Laju pertambahan bobot bahan selama pertumbuhan;
  • Warna kulit (lebih disukai yang kuning);
  • Warna bulu (disukai berwarna putih);
  • Konversi pakan;
  • Bebas kanibalisme;
  • Sehat dan kuat, kaki tak mudah bengkak;
  • Temperamen lamban;
  • Daya pembentukan karkas;
  • Daya hidup ayam.

Dari faktor-faktor di atas maka dapat dipilih sifat ayam pedaging yang baik, yaitu meliputi:

  • Bentuk badan segiempat dan dalam;
  • Bahu luas dan lebar dengan alas dada bulat;
  • Bulu lebat dan agak longgar;
  • Gerak lamban;
  • Shank bulat.

Read the rest of this entry »

Posted in pertanian | Tagged: , | Leave a Comment »

Budidaya ayam pelung

Posted by haryvedca on August 15, 2010

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Ayam Pelung adalah sejenis bangsa ayam hias yang hidup dan berkembang biak di kabupaten Cianjur. Ayam ini dipelihara untuk kesenangan sebagaimana halnya dengan perkutut dan ayam sabungan.
Seiring dengan kehidupan bangsa Indonesia yang sedang mengalami krisis ekonomi, maka perlu dicari jalan keluar untuk mengatasi hal tersebut diatas. Salah satu cara yang dapat mengatasi krisi ekonomi adalah membuka usaha dagang ayam pelung.
Keberadaan ayam pelung menjadikan Indonesia memiliki sumber daya lestari terpendam yang khas dan diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi peningkatan kesejahteraan dan taraf hidup masyarakat. Usaha dagang ayam pelung jika dilakukan secara profesional dapat memberikan keuntungan ganda kepada pengusahanya. Hal yang dapat dijual dari ayam pelung adalah keindahan suara, penampilan, daging dan telurnya.

2.  Deskripsi Singkat Materi
Pada unit modul ini akan diuraikan tentang persiapan kandang, pemilihan bibit, pemberian pakan dan air minum serta pengendalian penyakit pada ayam pelung.

3.    Tujuan Pembelajaran Umum (TPU)
Setelah mempelajari modul ini, dengan disediakan alat dan bahan, Anda mampu melakukan pemeliharaan ayam pelung dengan kriteria adanya kesiapan melaksanakan pemeliharaan ayam pelung.

2.    Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)
Setelah mempelajari modul ini, Anda:
a.    Mampu melakukan persiapan kandang dengan benar apabila disediakan kandang, peralatan dan bahan desinfektan.
b.    Mampu melakukan pemilihan bibit dengan benar apabila disediakan bahannya (DOC )
c.    Mampu melakukan pemberian pakan dan air minum dengan benar apabila disediakan alat dan bahannya.
d.    Mampu melakukan pengendalian penyakit ayam pelung dengan benar apabila disediakan alat dan bahannya

LEMBAR INFORMASI TPK 1

PERSIAPAN KANDANG DAN PERALATAN

Kandang
Ayam pelung pedaging pada umumnya dipelihara secara intensif, yaitu ayam  selalu dikandangkan.  Adapun syarat-syarat kandang yang baik adalah :
1.    Dinding kandang dapat terbuat dari papan, bilah bambo, ram kawat.  Dinding kandang tidak perlu rapat, hal ini dimaksudkan untuk keleluasaan pertukaran / sirkulasi udara dalam kandang.
2.    Arah kandang membujur timur- barat.  Hal ini dimaksudkan agar tidak terlalu kepanasan , tetapi pagi hari masih dapat memperoleh sinar matahari.
3.    Tinggi tiang tengah ke atap minimal 3 meter dan tiang tepi minimal 2 meter.
4.    Atap kandang dirancang sesuai dengan fungsinya, yaitu untuk melindungi bangunan beserta isinya dari hujan, panas matahari atau angin.
<!–more–>
Bentuk atap kandang biasanya :
•  Miring  dan kedua sisi miring
•  Monitor dan  semi monitor
Namun demikian atap monitor dan semi monitor merupakan bentuk atap yang sering digunakan di Indonesia dengan tujuan agar sirkulasi udara kandang lebih lancar.  Tetapi untuk kondisi di negara Indonesia yang merupakan negara tropik maka tipe kandang yang paling sesuai adalah tipe terbuka (open house), dengan menggunakan sistim kandang litter atau slat

Peralatan
• Tempat pakan, kebutuhan : 100 ekor/feed plate
• Tempat minum, kebutuhan 75 ekor/ chicken formt
• Alat pemanas (Brooder)
• Termometer
• Tirai kandang
• Litter
• Pagar pembatas / Penyekat (Chick Guard)
Kandang dan peralatannya harus dipersiapkan minimal 2 minggu sebelum digunakan.  Persiapan kandang dan peralatannya meliputi : pembersihan, pencucian  dan sanitasi kandang dan peralatannya, pemakaian alas kandang / litter dan penataan peralatan termasuk menyetel alat pemanas sehingga siap untuk digunakan serta menentukan kepadatan kandang.

Pembersihan dan pencucian kandang dan peralatannya dengan menggunakan air bersih.  Sanitasi (sucihama) dilakukan dengan menggunakan desinfektan.  Sanitasi ini dapat dilakukan dengan dengan cara mencuci, melabur, menyiram atau menyemprot.  Sanitasi di luar kandang dilakukan dengan menaburkan kapur di sekitar kandang, menempatkan dipper di depan pintu kandang dan menyemprot dengan desinfektan.

Macam-macam kandang yang digunakan untuk pemeliharaan ayam pelung
1.    Kandang ren (semi intensif)
Kandang ren  digunakan untuk memelihara induk ayam pelung. Model kandang ren adalah bangunan kandang yang dilengkapi dengan halaman sebagai tempat umbaran. Satu unit kadang ren dengan lahan seluas 6 m2, cukup untuk 6 ekor ayam betina dan satu ekor ayam jantan. Satu unit kandang ren terdiri dari dua bagian, yaitu bangunan kandang beratap dengan luas 2 m x 1 m dan halaman atau tempat umbaran seluas 2 m x 2 m.
Bangunan kandang beratap berfungsi sebagai tempat untuk tidur, istirahat dan bertelur. Lantai untuk kandang dibuat lebih tinggi dari permukaan tanah sekitarnya. Untuk bertelur, disediakan sarang yang dibuat dari anyaman bambu yang diberi alas jerami padi atau bahan lain. Sarang sebaiknya diletakkan lebih tinggi dari tempat tenggeran, untuk menghindari masuknya kotoran ayam kedalam sarang. Kandang sebaiknya dilengkapi  dengan tenggeran (tempat bertengger)
Fungsi dan kegunaan tempat bertengger antara lain:
1.    Agar ayam dapat tidur dengan tenang, berjejer secara teratur.
2.    Mengurangi kemungkinan ayam menghirup debu dan gas yang berasal dari kotoran.
3.    Mengurangi ayam terkena kotoran sendiri dan kotoran ayam lain, sehingga bulu tetap bersih.

Bahan tenggeran dapat dibuat dari bambu atau kayu reng ukuran 5-6 cm, bagian pinggirnya dibulatkan seperlunya agar telapak kaki dan jari ayam tidak luka dan ayam senang bertengger di atasnya.
Ada dua macam bentuk tenggeran yaitu tenggeran posisi datar dan tenggeran posisi piramid.
1.    Tenggeran posisi datar
Bambu atau kayu tenggeran terpasang secara horizontal berjejer di dalam kandang. Tiinggi tenggeran kurang lebih 60 cm dari permukaan litter dengan panjang disesuaikan dengan jumlah ayam dalam kadang dengan patokan 8-10 ekor ayam muda/meter atau 5-6 ekor ayam dewasa/meter. Jarak tenggeran sekurang-kurangnya 30 cm untuk ayam muda 35 – 40 cm untuk ayam dewasa.
2.    Tenggeran posisi piramid
Tenggeran berupa tangga sederhana dari kayu atau bambu bulat yang disandarkan pada dinding kandang. Jarak antara anak tangga dengan lantai sekitar 50 cm.

Lantai kandang diberi alas berupa sekam padi atau serbuk gergaji yang dicampur dengan kapur setebal 5 cm. Jika tidak ada kapur, alas kandang dapat disemprot dengan desinfektan sesuai dengan ketentuan.
Peralatan kandang berupa tempat pakan dan tempat minum diletakkan di halaman umbaran. Tempat pakan dapat dibuat dari bahan kayu atau bambu yang dibelah, atau membeli yang sudah jadi dari seng atau plastik bentuk tabung. Demikian juga untuk tempat minum. Sekeliling kandang ren dipagari agar ayam tidak dapat keluar dari halaman umbaran.

2.    Kandang Postal
Kandang postal  digunakan untuk memelihara anak ayam pelung yang tidak diasuh induknya. Anak ayam berada di kandang postal sejak DOC sampai umur 3 bulan.
Kandang postal berbentuk kotak dengan ukuran panjang 1 m, lebar 1 m dan tinggi 60-70 cm. Bagian bawah (alas) terbuat dari bilah bambu selebar 2-3 cm. Disusun dengan kerenggangan sekitar 1-2 cm. Dinding dibuat sedemikian rupa agar pertukaran udara dapat berlangsung dengan lancar, tetapi anak ayam tidak lolos keluar.
Setiap satu meter kandang postal dapat menampung ayam maksimal :
-    50 ekor, untuk anak ayam umur 1– 10 hari
-    40 ekor, untuk anak ayam umur 10 – 20 hari
-    25 ekor, untuk anak ayam umur 20 – 30 hari
-    15 ekor, untuk anak ayam umur 1 – 3 bulan
Bila satu unit kandang postal digunakan untuk ayam dewasa, dapat menampung sekitar 7-8 ekor.

Cara melakukan persiapan kandang :
a.    Inventarisasi kondisi kandang dan peralatan :
Inventarisasi ini berguna untuk menghitung :
•    berapa jumlah ayam yang seharusnya dipelihara
•    jumlah alat-alat yang rusak dan yang perlu
diperbaiki
1.    Peralatan kandang yang meliputi tempat pakan, tempat minum, brooder dikeluarkan dari dalam kandang (bekas digunakan pada pemeliharaan sebelumnya).
2.    Litter yang bercampur kotoran dimasukkan dalam karung dan dikeluarkan dari kandang.
3.    Dinding, langit-langit (atap kandang) dibersihkan dengan sapu.
4.    Lantai kandang dicuci / disemprot dengan air bersih.
5.    Tempat pakan dan tempat minum dicuci dengan air bersih dan deterjen, lalu dibilas dengan air bersih atau larutan desinfektan.
6.    Dinding kandang sebaiknya dikapur.
7.    Setelah kandang kering litter ditaburkan dalam kandang dengan ketebalan 3-5 cm, dimana sebelumnya dibuat pagar pembatas
8.    Penataan peralatan (tempat pakan, tempat minum, brooder),
9.    Kandang yang sudah lengkap dengan peralatan dan tertata disemprot dengan dengan desinfektan.
10.    Kandang sudah siap menerima anak ayam.
b.    Sanitasi kandang
c.    Persiapan sebelum DOC tiba
1.    Pastikan kapan DOC tiba ! berapa jumlah dan jenisnya
2.    Brooding ring. Luas brooding ring yang dibutuhkan 40-50 DOC/m2, tetapi dengan bertambahnya umur, mak aperlu menambah luasnya dimana jumlah anak ayam makximal dalam satu brooding ring adalah 500 ekor. Brooding ring sebaiknya dibuat melingkar agar anak ayam tidak menumpuk disudut pagar.

LEMBAR KERJA TPK 1

Judul        :    Merangkai dan Menghitung Kebutuhan Brooding ring
Tujuan    :    Petatar mampu menghitung dan merangkai kebutuhan brooding ring dengan standar kebutuhan dan tata letaknya.
Alat dan Bahan :
1.    Alat pemanas
2.    Seng
3.    Tempat minum DOC (Chicken fount)
4.    Tempat pakan DOC (feed plate)
5.    Meteran
6.    Kalkulator
7.    Sekam
8.    Koran
9.    Termometer
Keselamatan Kerja :
hati-hati dalam merangkai brooding ring
agar tidak terjadi konsleting listrik
Langkah Kerja :
1.    Tentukan berapa jumlah ayam yang akan dipelihara
2.    Hitung luas brooding ring  dengan rumus : Luas    =     x  r2, keliling =    x  diameter
3.    Hitung kebutuhan (jumlah) tempat pakan yang dibutuhkan
4.    Hitung jumlah tempat minum yang dibutuhkan
5.    Siapkan alat-alat yang akan dipakai
6.    Rangkailah brooding ring
7.    Tebarkan sekam, kemudian tutup dengan koran
8.    Pasanglah chicken found dan feeder plate sesuai dengan tata letaknya
9.    Letakan termometer di atas koran
10.Nyalakan pemanas

Diskusi :     Kenalkah Anda dengan macam-macam heaters ?
Jelaskan masing-masing jenis heater !

Posted in pertanian | Tagged: | 4 Comments »

Pembibitan ayam arab

Posted by haryvedca on August 15, 2010

PENDAHULUAN
Perkembangan ayam buras (bukan ras) atau lebih dikenal dengan sebutan ayam Arab di Indonesia berkembang pesat dan telah banyak dipelihara oleh peternak-peternak maupun masyarakat umum sebagai usaha untuk pemanfaatan pekarangan, pemenuhan gizi keluarga, hiasan serta meningkatkan pendapatan.
Dikarenakan dengan pemeliharaan sistem tradisional, produksi telur ayam arab sangat rendah, ± 60 butir/tahun/ekor. Berat badan pejantan tak lebih dari 1,9 kg dan betina ± 1,2 ~ 1,5 kg, maka perlu diintensifkan. Pemeliharaan yang intensif pada ayam arab, dapat meningkatkan produksi telur dan daging, dapat
mencegah wabah penyakit dan memudahkan tata laksana.
Sistem pemeliharaan ayam arab meliputi : bibit, pemeliharaan, perkandangan, pakan dan pencegahan penyakit.

PEMILIHAN BIBIT AYAM ARAB
Ciri-ciri bibit yang baik :
1. Ayam jantan
o Badan kuat dan panjang.
o Tulang supit rapat.
o Sayap kuat dan bulu-bulunya teratur rapih.
o Paruh bersih.
o Mata jernih.
o Kaki dan kuku bersih, sisik-sisik teratur.
o Terdapat taji.
Read the rest of this entry »

Posted in pertanian | Tagged: | 2 Comments »

Menentukan lahan pertanian organik

Posted by haryvedca on August 15, 2010

I PENDAHULUAN

A. Deskripsi

Modul ini merupakan bagian integral dari program Pertanian Organik yang berwawasan lingkungan hidup. Pertanian Organik merupakan bagian dari bidang lingkungan hidup dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan hidup dengan penggunaan bahan-bahan yang ramah lingkungan dalam praktek pembudidayaan tanaman di lahan pertanian secara organik.

Modul ini berisi kompetensi Menentukan Lokasi dan Menyiapkan Lahan Budidaya Tanaman Sistem Pertanian Organik dengan dua buah sub kompetensi yaitu Menentukan Lokasi Budidaya Tanaman Sistem Pertanian Organik dan Menyiapkan Lahan Budidaya Tanaman Sistem Pertanian Organik. Penguasaan kompetensi ini diharapkan akan lebih memberikan wawasan kepada peserta didik mengenai cara menentukan lahan yang akan digunakan untuk budidaya tanaman secara organik dan proses penyiapan lahannya dengan benar.

Modul ini terkait erat dengan modul-modul yang lainnya dalam lingkup program Pertanian Organik. Modul ini berkaitan erat dengan penguasaan kompetensi pada modul sebelumnya yaitu mengenai Spirit Kewirausahaan Pertanian Organik. Hal ini terutama tahap perencanaan wirausaha dalam bidang pertanian organik sampai tahap pelaksanaan dari perencanaan tersebut yaitu penentuan lokasinya dan penyiapan lahannya.
Read the rest of this entry »

Posted in Organik farming, pertanian | 1 Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.